Kamis, 15 Februari 2018
Senin, 22 Januari 2018
Resensi Memanjat Pesona
Resensi Novel Memanjat Pesona
Judul : Memanjat Pesona
Genre :
Novel
Pengarang : Nun Urnoto El Banbary
Penerbit : CV. Pustaka Ilmu Group Yogyakarta
Tahun Terbit : 2013
Ketebalan Buku : 202
Halaman
Ini adalah novel pertama lainnya karya Nun Urnoto
El Banbary, Memanjat Pesona, Jalan Terjal Meminang Cinta sesudah sebelumnya
terbit novel yang berjudul Anak-anak Revolusi yang menyabet juara 1 di Penerbit
AGP 27 Agustus 2013.
Sebuah novel yang
mengisahkan tentang perjalanan cinta seorang santri pada sebuah pesantren yang
memasuki perjalanan kehidupan yang baru setelah tiga hari ia keluar atau lulus
dari pesantren.
Ia mulai mengenal dunia yang amat sangat jauh berbeda dengan dunia
kitab kuning, kitab gundul.
Dunia yang ia kenal sekarang adalah dunia yang
tidak hanya berwarna kuning saja, akan tetapi penuh warna warni, indah, penuh
pelangi. Bahkan terkadang vulgar.
Setelah 13 tahun lamanya
berkutat dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran, sarung, kopyah, serta hanya
mengenal syair-syair cinta dari syair Arab. Keelokan dari kata yang
terdiri dari lima aksara tersebut hanya melayang, mengapung, dalam imajinasi
semu.
Bagai dendam kesumat, 3 hari setelah keluar dari pesantren yang
memenjarakannya selama 13 tahun, tiba-tiba saja Belia mengikrarkan hatinya untuk
seorang gadis jelita dari tanah Pakuniran.
Seumur-umur, ia belum pernah jatuh dalam kubangan lumpur cinta yang
maha dasyat. Ia hanya mendengar dari cerita novel, cerpen, atau mendengar dari
syair-syair cinta dari Nadham Alfiya yang ia baca usai badannya terpenjara
dalam penjara suci.
Ketika matahari merayap di atap-atap rumah. Ketika embun pagi mulai
beranjak dari dedaunan, dan ketika peluh berleleran di antara orang-orang yang
berlari pagi, dendam masa laluku menyelinap dan mulai bereaksi.
Di depan museum Bung Karno, saat barisan orang-orang yang berlari
pagi hanya memedulikan keringatnya sendiri, mataku melekat tepat pada seraut
wajah yang serasa pernah kujumpai, tapi entah dimana? Aku tak ingat lagi. (
hal: 3)
Ia seorang gadis bertubuh semampai, jalannya neter kolenang. Wajahnya bercahaya. Kerling matanya mampu
mendamaikan kemelut hati yang durja.
Sebelum aku mengajaknya berkenalan, sudah kuhafalkan kuat-kuat
namanya ketika disebut pada acara itu.
Hampir beberapa waktu aku memikirkan namannya, sebab bila tidak akan
hilang begitu saja. Aku paling susah mengingat nama dan angka.
Namanya Luna Nyata. Aku lebih suka memanggilnya Luna. Panggilan yang
mudah untuk kulafaldzkan asmanya. Jiwaku seperti di tumbuhi bunga, atau terasa
mengapung ke angkasa raya. Nikmatnya tiada terkira. Luar biasa! Bagi yang belum
pernah jatuh cinta, boleh tidak percaya.
Beberapa saat kemudian, keringat dingin segera mengucur dari
keningku, bahkan mulai bermunculan di setiap pori-poriku yang tersembunyi di
balik bajuku.
Metabolisme tubuhku seperti dipaksa berpacu oleh jantungku.
Dag-dig-dug mengetuk-ngetuk dinding hati yang menebal.
Entah apa yang terjadi dengan jantung dan hatiku? Sepertinya tengah
berevolusi ke satu titik. Menggeliat nggeliat mencari satu alamat.
Merekontruksi sel-sel cintaku yang pernah non aktif selama tiga belas tahun
lamanya.
Dari sinilah Balia, atau nama panjangnya Danial Jawala Balia
mengenal sosok Luna Nyata, gadis dari pakuniran yang membuat ia terpesona.
Laksana anak panah yang lepas dari busurnya, mengenal Luna Nyata,
sosok perempuan satu ini, sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan
merupakan sesuatu yang amat sangat luar biasa bagi Balia.
Dan sangatlah manusiawi, karena selama di pesantren sosok perempuan
adalah mahluk haram yang bagi warga pesantren putra. Jangankan menjalin cinta,
melihatnya saja akan dihukum gundul dan disuruh berlari tujuh belas kali
putaran mengelilingi pesantren yang luas.
Kali ini Balia tidak lagi berkhayal bahkan bermimpi untuk
mendapatkan bidadari syurga Pakuniran, namun Balia benar-benar akan membangun
istana cinta di dalam syurga Firdaus.
Gadis jelita didepannya telah memberi kabar, bahwa kehendak hatinya
serupa dengan kehendak dirinya. Lalu senyum gadis yang mampu meruntuhkan
singgasana khayalnya itu, merekomendasikan dirinya untuk meminangnya. Kehendak
Tuhan pun mulai bersambut.
Balia pergi menelusuri lekuk zaman, memasuki rahasia tanah sang
kekasih dan berusaha membangun segala impinya di tanah itu, namun sekelompok
ifrit telah merasuk lakon cintanya, mencabik dan meruntuhkan indahnya syair-syair
cinta yang membahana di kelopak kalbunya.
Kehendak cinta pada kekasihnya, berhadapan dengan kekuasaan ifrit
yang selalu rela menghadirkan kasus lama, seperti Romeo dan Juliet yang tragis
itu.
Dalam menejelajahi samudera cinta tentu tidak bisa menghindari batu
karang terjal yang menghadang serta hempasan deburan ombak yang menerjang yang
siap melahapnya dengan tiupan angin yang menerpa, mencabik-cabik serta
menggugurkan bunga-bunga cinta Balia yang mulai bermekaran dalam jiwa Balia.
“Aku disuruh memutuskan hubungan kita, mas …!!!”
Bagai disambar petir, aku hampir jatuh terjungkal di halaman rumah
kontrakan. Tanganku gemetar, suaraku seperti terekat.
Mimpi buruk yang kusimpan kemarin lusa, seperti menemukan
jawabannya. Aku bermimpi menemukan terjun payung bersamanya, dari ketinggian
yang tidak terkira, tapi peristiwa mengerikan menimpaku. Aku meluncur jatuh ke
bawah karena gagal parasut. Sebelum menyentuh tanah aku terjaga dari tidur
dengan nafas tersenggal-senggal.( hal : 181)
Novel ini tidak
hanya menceritakan perjalanan cinta dua anak manusia yang penuh kelokan, tetapi di
dalamnya juga terdapat sederetan hikmah juga hentangan ilmu yang dapat di unduh
serta di bagikan di dalam menjelajahi kehidupan. Kehidupan di pesantren yang di
alami Balia akan
secara tidak langsung memberi pengaruh positif bagi pembacanya. Penulis
seakan-akan sedang berbagi ilmu dengan pembaca.
Alur cerita yang sederhana, gaya bahasa penegasan menggunakan gaya bahasa
Hiperbola, sehingga pembaca bisa larut menikmatinya tanpa terasa. Untuk
perbandingannya novel ini menggunakan gaya bahasa Metafora, sehingga indah
sekali kalimat-kalimatnya. Membuat pembaca larut merasakan apa yang penulis
rasakan. Pembaca seakan tak mau berhenti dan ingin terus membacanya. Ini
merupakan nilai lebih dari novel ini.
Desain sampulnya indah serta halaman cukup menarik, namun di luar dari
kekurangan dan kelebihannya novel ini juga menyuguhkan bahasa Madura di
dalamnya, dan sedikit membuat pembaca sulit memahami serta menambah
perbendaharaan kosa kata bahasa daerah bagi yang membacanya.
Selamat Membaca :)
Peresensi: Nur Zaidah
Senin, 14 Agustus 2017
Jumat, 28 Juli 2017
SPEED READING-Jurus Membaca Cepat, Tepat, dan Akurat
SPEED READING
Jurus Membaca Cepat, Tepat, dan Akurat
Judul Buku : Speed Reading, jurus membaca cepat, tepat, dan akurat
Penulis : M. Hariwijaya
Pra Cetak : Dewangga
Penerbit : Tugu Publisher
Cetakan : I (pertama), Januari 2011
ISBN : 979 - 3191 - 31 - 7
Jumlah : 196 hlm, 1 cm
Buku Speed Reading atau cara membaca cepat adalah skill yang dapat memberikan banyak jalan keluar atas semua permasalah an manusia modern yang syarat dengan kesibukan. Sehingga kita dapat memperoleh informasi dan pemahaman dengan cepat, tepat dan akurat.
Pada lembaran awalnya sebuah pengantar dari penulis yang memaparkan tentang bagaimana mengelola sebuah buku agar dapat dinikmati oleh pembaca dan pesan dari penulis bisa tersampaikan dengan tepat. Tentu dalam menulis sebuah buku, paper kecil skripsi atau tulisan lain yang berkwalitas membutuhkan beberpara referensi sehingga tulisan itu bisa mendalam dan luas serta terhindar dari plagiat.
Dengan membaca skimming dan scanning orang akan bisa mendapatkan dan mengetahui hal-hal penting dari suatu buku atau artikel, sehingga banyak mengumpulkan ide, banyak kesempatan untuk menyerap ide.
Ringkasan Buku
Bagaimana seseorang dapat di katakan mampu membaca sebuah buku dengan tingkat pemahaman yang berbeda. Tingkat pemahaman itu bisa didapatkan melalui kebiasaan atau hobi membaca, bisa didapat saat di sekolah, kuliah. Tingkat ketebalan buku juga sangat mempengaruhi daya serap bagi pembaca, baik itu buku fiksi ataupun non fiksi.
Namun tingkat pemahaman seseorang tidak harus didapatkan membaca buku-buku di sekolah atau tempat kuliah, tapi bisa juga didapatkan dari membaca lembaran apa saja bisa dari koran, majalah yang sudah digunakan untuk bungkus apapun.
Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju seseorang terkadang lebih memahami sebuah novel yang difilmkan dari baca membaca secara tekstual. Mungkin mereka menganggap lebih enjoy, dan waktunya cepat selesai. Berbeda dengan membaca membutuhkan waktu yang cukup lama. Tetapi dengan membaca novel sebuah film orang akan mampu mengembangkan imajinasinya secara luas dibanding menonton film penonton akan dibatasi ruang imajinasinya hanya itu-itu saja.
Seseorang yang membaca harus menggerakkan mata dan menggunakan pikiran, tanpa itu seseorang tidak dapat membaca dengan baik. Dengan begitu pembaca dapat menangkap apa yang disampaikan penulis dalam buku tersebut.
Ada beberapa tingkatan membaca yang sengaja disampaikan oleh penulis dalam buku ini, yang 1) membaca tingkat elementer, 2) membaca Inspeksional, 3) membaca Analisis, 4) membaca Sintopikal, 5) membaca Buku Praktis, 6) membaca Kreatif.
Mengenali kerangka buku dan mencari garis besar buku adalah tugas seorang pembaca karena menemukan pernyataan yang lebih pendek, lebih betul dan lengkap adalah akan lebih baik dari yang lain.
Tahapan membaca yang tersebut di atas tidak bisa semuanya dialalmi oleh seorang pemabaca, namun paling tidak bisa dijadikan refleksi, apakah kita tergolong diantara salah satunya.
Isi Singkat
Buku ini dengan sampul yang unik menurut saya, tulisan "SPEED READING" berada di tengah agak ke atas dan beberapa buku berjejer yang ditengahnya dsalah satu buku dibuka oleh seorang pembaca yang bertubuh kecil. Sehingga mampu menjadikan daya tarik tersendiri untuk membuka dan membacanya.
Terdiri dari enam bab, setiap lembaran babnya mampu menggiring pembaca untuk menuntaskan bacaanya lebih lanjut sampai akhir lembannya.
Bab pertama memaparkan tentang kegiatan membaca adalah sebuah hobi yang keren dan berkwalitas. Dengan membaca cepat seseorang akan dapat memperoleh informasi, meningkatkan pemahaman, mendapatkan metode belajar yang efisien, menghilangkan hambatan membaca, membaca secara telegrafis, cepat menemukan ide, membandingkan serta menilai, Skimming Scanning, serta dapat Konsentrasi.
Bab dua menjelaskan tentang tahapan Seep Reading atau membaca cepat, serta ada beberapa tingkatan dalam membaca, anatar lain;
1) Membaca Elementer, membaca tingkat dasar saat di sekolah
2) Pembaca diberi waktu/batasan waktu dalam membaca (Inspeksional)
3) Membaca Analitis, membaca paling baik dan sangat aktif tidak dibatasi, waktu dan untuk memperoleh kepemahaman.
4) Membaca Sintopikal, membandingkan dari beberapa buku dan menyusun buku
Tahapan Membaca;
1. kesiapan membaca dimulai sejak lahir
2. perkembangan Membaca, dimulai dari membaca buku-buku sederhana 300-400 kata
3. Membaca dengan menenmukan kata-kata yang sulit
4. Membaca dengan menghubungkan ide satu dengan lainnya atau buku lain
Bab tiga, menganalisa buku.
Seorang pembaca analitis harus mampu menganalisa kerangka buku karena dengan begitu seorang pembaca akan akan memahami. Kesatuan sebuah novel tidak sama dengan kesatuan sebuah buku sejajarah. Begitu juga bagiab-bagian dri jenis yang sama, dan bagian itu pun tidak disusun dalam cara yang sama. tetapi setiap bacaan yang layak dibaca memiliki satu kesatuan dan suatu kerangka penyusunan yang cermat atas bagia-bagiannya.
Yang kedua menyebutkan kesatuan secara keseluruhan sebuah bacaan dalam satu kalimat saja atau paling banyak dalam tidak lebih dari beberapa kalimat.
Mencatat bagian-bagian yang penting dalm sebuah bacaan dan menunjukkan bagaimana bagaimana bagian-bagian ini disusun dan dihubungkan sebagai suatu keseluruhan antara satu dengan yang lain dan terhadap suatu keseluruhan.
Menulis dan membaca mempunyai hubungan yang saling terkait antara satu dengan lainnya, seperti halnya dengan mengajar dan diajari.
Pembaca berusaha untuk membuka tabir kerangka-menemukannya sedang penulis membuat garis besarnya dang berusaha untuk menyelubunginya. Tujuannya adalah memanfaatkan kepandaiannya sebagai seorang pengarang untuk menyembunyikan kerangka itu.
Membaca buku ini tidak memerlukan banyak waktu, menurut penulis dari buku ini, hanya dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menyelesaikan buku ini dengan menggunakan kecepatan membaca rata-rata. Jika menggunakan teknik "speed reading" tentu waktu yang digunakan akan lebih sedikit. Dengan menguasai teknik "speed reading" diharapkan pembaca mampu memahami isi dari bacaan dengan lebih cepat
Selasa, 27 Juni 2017
Kamis, 15 Juni 2017
Sabtu, 27 Mei 2017
Exclusive Interview on Mount Bromo with Dr. Syamsul Arifin and Cameraman Nur Zaidah
BROMO, 11 Mei 2017 saya dan teman-teman anggota PERGUNU PAC. kecamatan Ngoro Jombang sampailah di kampung Tengger, tepatnya di lokasi parkir mobil yang tempatnya tidak beraturan dan sempit karena letaknya yang tidak strategis, ada yang di depan rumah warga ada juga yang di depan penginapan.
Usai kami istirahat sebentar serta membersihkan diri meski cuma mengambil air wudhu dan sholat shubuh bagi anggota yang belum menunaikan. Kami segera mempersiapkan segala sesuatunya, air minum, jaket, masker, kaca mata, topi ninja serta tas rangsel juga makanan ringan, sarapan pagi tak lupa sudah sebagian anggota menikmatinya. Segera kami terbagi menjadi 2 hingga 4 kelompok, karena setiap dari kami terkadang tertinggal berapa puluh kaki dari kelompok lainnya karena asik menikmati pemandangan di sekitar tempat parkir menuju Gunung Bromo.
Jalan beraspal yang menurun dan jaraknya kurang lebih 1 km, sehingga kami membutuhkan teknik pengereman kaki dan turun secara perlahan meski harus menguras tenaga sebegitunya.
Ketika kami bertemu kembali saat melangkah perlahan di jalan beraspal
yang menurun menuju lautan pasir Bromo
Sesampai kami pada perbatasan jalan beraspal dan jalan yang di penuhi pasir, kami dihadapkan pada lautan pasir Bromo yang luasnya, subhanallah 5250 hektare. Bisa tidak membayangkan luasnya seperti itu lalu kita berada sendiri di tengah-tengahnya. Ah kok nglantur, yang jelas di antara kami sat menuju lokasi gunung Bromo dan mengarungi lautan pasir itu ada yang naik kuda dan ada yang berjalan kaki loh, hebat kan?
Bu Mamik satu di antara dua dosen
yang naik kuda
Alhamdulillah saya dan teman saya sampai di sebuah bangunan yang cukup besar, apa ya? Samar-samar terlihat di depan mata karena kabut masih menggelayut di udara.
Aha, ternyata "Pure Luhur Poten" di dinding itu tertulis. Rupanya ini adalah tempat pemujaan suku Tengger yang beragama hindu.
Kami beristirahat sebentar, dengan menikmati semangkok bakso gratis, hehe Alhamdulillah dapat traktiran dari teman SMA yang baik hati dan kebetulan satu rombongan. Ternyata ada teman-teman lain yang sudah sampe di Pure, terlihat mereka menikmati bakso panas untuk mengusir hawa dingin yang menusuk sukma, hehe copi paste dari teman SMA.
Ternyata saya dan teman SMA tertinggal jauh di belakang, gegara jepret-jepret klik sana klik sini. Tak terasa dengan semangat yang terus kita bangun, sampailah kita di sisi timur Bromo, terlihat jalur menuju puncak yang begitu sempit, berliku serta penuh debu pasir. Juga lalu lalang kuda-kuda tunggang, tak ayal debu-debu terus berhamburan. Kita sepakat untuk jalan kaki menuju tangga Gunung Bromo yang kemiringannya hampir 45 derajat.
Alhamdulillah sampailah kita di kaki Gunung Bromo, tepatnya pada anak tangga pertama menuju kawah Bromo. Kita sudah sampai di badan gunung, jalan yang Anda lalui akan berubah menanjak dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Di Bromo sudah tersedia 250 anak tangga yang dapat dilalui para pengunjung untuk sampai ke puncak sang Brahma. Tangga di Gunung Bromo sendiri terbagi menjadi 2 jalur, yang satu untuk naik dan satunya untuk turun. Dengan sisa tenaga yang mungkin 75%, kita menaiki tangga satu demi satu sembari menata keluar masuknya nafas.
Kurang lebih 20 menit kita akhirnya sampai di kawah Brahma, tetapi belum sampai 15 menit teman saya mengajak turun. Ha? ada apa ya, akhirnya kita turun dengan begitu hati-hati karena sangat begitu banyak pengunjung di bibir Gunung Bromo sehingga kalau tidak hati-hati bisa-bisa terpeleset dan jatuh di kawah Brahma, naudzubillahimindzalik ....
Ketika kita turun dari puncak Bromo, saya sempat mengabadikan pemandangan di antara sekelilingnya. Orang-orang yang naik tangga, pegunungan semeru di sekitarnya, juga yang paling indah adalah kabutnya. Subhanallah seperti negeri di atas awan. Kabut putih menutupi sebagian badan gunung dan lautan pasir sehingga hanya terlihat puncaknya saja.
Dan subhanallah kita sempat berkenalan dengan wisatawan asing dari Europe, yang kebetulan juga menyukai dunia seni seperti saya, hhe. Tampak di lehernya tergantung kamera yang bermerk. Teman saya yang fasih dengan bahasa Inggris dengan sok akrabnya ala reporter tv one berbincang-bincang dengan wisatawan itu.
Ini dia hasil wawancara ekslusifnya cekedoott ....
Ketika Dr. Syamsul Arifin wawancara special dengan wisatawan dari Europe
Cukup keren kan, menjadi reporter dadakan dan cameramen andaikan saja setiap ada event travelling saya bisa menjadi seorang cameramen, ahay sungguh pengalaman yang sangat berharga dan tidak pernah terlupakan.
Okey segera kita simak bagaimana Dr. Syamsul begitu lugasnya menanyakan tentang bagaimana pendapat wisatawan asing itu tentang Bromo dan pemandangan di sekitarnya.
Tapi ada pertanyaan yang special juga dari wawancara ini, apa yang menjadi sebab wisatawan asing itu begitu akrab dengan reporter dan cameramen? Ayo coba dijawab ya sholihah sholihin ....
Eh tapi sengaja video ini tidak saya edit sama sekali karena begitu alaminya perbincangan antara saya, Dr. Syamsul dan beberapa wisatawan asing lainnya dan inilah yang membuat indah dan logat bahasanya begitu kental.
Dan ngomong-ngomong ini ada bocoran sedikit lo, kalau teman saya yang doktor itu ternyata di samping beliau seorang guru di sebuah SMA, beliau juga seorang dosen di STIT Al Urwatul Wustho, dan juga seorang pengurus PERGUNU PC. Kabupaten Jombang.
Dan cameramen dadakannya alias saya sendiri adalah salah satu anggota baru PERGUNU yang baru bergabung 1 bulanan.
dari kiri, Dr. Syamsul Arifin reporter, nomor dua Nur cameramen, nomer 3 bu Ida salah satu panitia
Lelah yang mendera, peluh yang terus keluar dan luruh di antara tubuh kami perlahan menyeruak di antara kaostum kami sehingga membuat gerah dan panas. Seiring matahari yang terus bergeser ke arah barat, teriknya yang semakin menyengat menjadikan kami segera ingin bernjak dari lautan pasir itu.
Usai perjalanan pendakian ke puncak Bromo yang begitu berat medannya, akhirnya kami sampai di tempat parkir mobil elf long dengan selamat. Meski tenaga yang tersisa tinggal 50-75%, kami masih ingin melanjutkan perjalanan ke tempat wisata berikutnya.
Oleh; Nur Zaidah
Langganan:
Postingan (Atom)
Puisi-Terima KAsih Ibu Guru
Puisi Terima Kasih Ibu Guru Ibu guru ... Katika pagi datang Engkau menyambutku dengan senyum yang ramah Membimbingku bertutur kata yang i...
-
Ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya BULUREJO, 01 Mei 2017 kali pertama tim Padu...
-
Semua Peristiwa Atas Kehendak-Nya dan Hanya Allah Yang Maha Tahu Setiap kejadian yang dialami oleh manusia di dunia ini semua...




