Senin, 14 Agustus 2017

LORONG WAKTU


Sepuluh Butir Pencarian






Buku ini adalah kumpulan cerita yang di dalamnya mengungkap lorong-lorong yang terpendam dalam satir yang tertutup rapat dan berisi tentang butiran-butiran perjalanan spiritual meneropong dimensi esensi Tuhan dalam detail dinamika serta problematika masyarakat di sekelilingnya. Di tulis oleh Aang Fatihul Islam, jumlah halaman 76 dan tebal buku 0,7 cm, diterbitkan oleh "Erhaka Utama Publishing Yogyakarta". Dan edisi cetakqn yang pertama, April 2017.

Cerpen Lorong Purnama menjadi judul cover buku ini, panggil saja Kamal, seorang santri pengembara dari sebuah desa yang cukup pelosok. Ia berjalan menyusuri irama kehidupan yang berdesir bagai note-note musik.  Dengan suasana hati yang dirundung kesedihan terhadap polah tingkah manusia yang kian hari kian durjana. Ia melihat kegelapan malam tanpa purnama. Kegelapan membuat manusia alaing bertabrakan satu sama lain, berjalan tanpa arah, anik, bimbang, bingung, buta mata hati. 

Tiba-tiba suatu hari ia dirundung kerinduan yang memuncak dengan pesantrennya di Jombang. Yang pada akhirnya ia dipertemukan oleh temannya yang bernama Hazim dengan seorang kakek yang masih keturunan Wali Songo. Konon menurut isyarat yang ia dapatkan, sang kakek tersebut adalah sesosok purnama yang menjadi penerang bumi yang kian gelap gulita. Usai mendengar semua cerita dari kakek tersebut, singkat ceita ahkirnya Kamal melakukan pendakian ke puncak Gunung. Dan di sinilah Kamal menemukan jawaban yang selama ini membuatnya gelisah dan berderet dalam relung hati. Purnama yang selama ini ia cari adalah orang-orang istimewa yang ditugaskan Allah untuk memantulkan cahaya ke Ilahian agar dunia tetap stabil. urnama tersebut adalah Para Nabi, Para Rasul, Para Auliya' dan siapapun yang bertugas memantulkan cahaya ke bumi.

***

Uler, judul cerpen yang cukup menggelitik benak saya karena judulnya yang sedikit aneh seperti nma binatang pemakan daun dan terbayang bulu-bulu halusnya yang bikin merinding bulu roma, hi. Ah ternyata "uler" adalah julukan seseorang yang berambut panjang dan kopyah putih menutupi sebagian rambut di kepalanya. Ia seorang perampok yang masih berdarah Cina. Pekerjaan sehari-hari hanya merampok dan merampok, tapi hasil rampokannya dibagikan kepada orang-orang tidak mampu. Suatu hari ajal merenggutnya ketika ketika berkecimpung dalqm aktifitas merampoknya. Namun tiba-tiba ada suara-suara aneh yang menyuruhnya untuk bertaubat dan seketika itu ia terbangun dari kematiannya dan membuat orang-orang pelayatnya terkejut bukan kepalang. Kemudian ia menemui seorang sesepuh pesantren di Surabaya, lalu ia membacq syahadat dan memeluk Agama Islam. Untuk menyempurnakan ke-Islamannya ia berguru kepada Gus Miek dan Gus Maksum, karena  tugasnya sebagai ulama yang mengembara untuk menjadi purnama yang memantulkan cahaya Ilahi dimanapun, maka Gus Miek dan Gus Maksum menjulukinya sebagai "Gus Uler" karena identik denga "Ulama' Nglecer".

***

Cerpen Juminten, menurut saya beda dengan lainnya karena mengisahkan tentang seorang gadis yang berusia 17 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga. Usia di mana seorang gadis remaja mengalami masa-masa sweet seventeen, tapi Juminten harus mengubur masa-masa itu bersama kenyataan yang telah memaksanya untuk menjadi dewasa. 

Air matanya telah kering karena sudah seringnya menetes serta pantang untuk menangis seperti gadis pada umumnya ketika menghadapi masalah. Ibunya meninggal sedang  ayahnya lumpuh sepeninggal istrinya. Ke-tiga adiknya yang masih kecil dan sangat butuh perhatian juga biaya hidup. Suatu hari ia berhutang uang pada seorang rentenir dan sudah jatuh tempo tapi tidak bisa membayarnya beserta bunganya, maka sebagai gantinya ia akan diperistri oleh rentenir tersebut sebagai istri yang ke lima. 

Janji kepada seseorang yang dicinta suatu hari akan terwujud bersama ridho Ilahi. Itulah janji sebuah hati yang tulus pada Juminten. Ya sebut saja Ari, ia kekasih Juminten yang telah menepati janjinya untuk meminang Juminten ketika detik-detik sang rentenir akan mengusungnya ke pelaminan. Namun kuasa Ilahi berkehendak lain, akhirnya Juminten melangsungkan akad nikah dengan kekasihnya Ari ketika usai melaksanakan kewajiban sholat Ashar. Kebahagiaan akqn datang pada waktunya, itulah janji Tuhan kepada hamba-Nya yang telah sabar menjalani ujian dari-Nya.

***

Dari ke 10 cerpen dalam buku ini hampir semua mengambil tema tentang ke-Tuhanan atau pengalaman spiritual. Dan menurut saya, Juminten adalah salah satu cerpen yang cukup menghibur hati serta kisahnya dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari meski itu langka. Di dalamnya ada kisah cinta sepasang anak manusia yang telah membuat janji, dan suatu hari harus ia tepati. Dan jujur tidak ada yang membuat air mata ini melongok keluar.


***
Nur, 15 Agustus 2017
Review 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puisi-Terima KAsih Ibu Guru

  Puisi  Terima Kasih Ibu Guru Ibu guru ... Katika pagi datang Engkau menyambutku dengan senyum yang ramah Membimbingku bertutur kata yang i...