AKU, KAMU DAN FLP
AKU, KAMU dan FLP : Ada Cahaya Di Ujung Luruhnya Asa
AKU, KAMU dan FLP : Ada Cahaya Di Ujung Luruhnya Asa
Kegiatan menulis sudah aku jalani ketika aku mulai mengenal bangku sekolah secara formal. Di sebuah Madrasah Ibtidaiyah tempat kelahiranku, yang setara dengan sekolah dasar. Namun yang pasti saya mulai terpanggil untuk menulis sebuah karya, bahasa kerennya, ketika Ibu usai dipanggil oleh Yang Maha Kuasa satu tahun sesudahnya.
Entahlah ketika itu, saya berada di ruang kelas tiga tempat saya mengajar, anak-anak sedang megerjakan ulangan harian. Namun tiba-tiba hati berasa ada yang memanggil-manggil untuk menuliskan sederetan kata-kata indah untuk ibunda tercinta. Maka jadilah sebuah puisi dengan judul "Untukmu Ibu", entahlah kata-kata indah itu mengalir begitu saja seperti air yang ada di kelokan sungai dan akhirnya sampai pada muaranya lautan lepas.
Dan dua hari sesudahnya iseng-iseng puisi ini saya kirim ke sebuah majalah daerah Kabupaten yaitu"Majalah Suara Pendidikan." Saya tidak mempunyai ambisi pada saat itu agar puisi saya dimuat, dalam hanti hanya berkata "dimuat alhamdulillah, tidak dimuat-pun tidak apa-apa."
Satu bulan terlewati di depan mata, dan saya sudah melupakannya. Eh tiba-tiba ada inbok facebook masuk, treng ...
Seorang teman guru perempuan memberi kabar bahwa puisiku dimuat di Majalah Suara Pendidikan. Begitu bahagianya hati ini, tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata, hanya derai air mata yang tiba-tiba menari-nari di karpet pipi. Sejak hari itu api semangatku kiat berkobar, menyala seperti api abadi sepanjang masa yangberda di Pulau Madura.
Puisi ke-duaku dimuat lagi di bulan Maret dengan judul "Guruku." Bahagia hati ini tiada yang menadingi, walupun tidak ada sepeser-pun uang aku kantongi. Bisa menjadi bermanfaat tulisan aku yang tidak seberapa itu, nilai lebih mahal dari sejuta uang jika kudapati.
Panggilan hati untuk belajar menulis kian hari tumbuh dengan subur, serupa sebutir benih yang berada di lautan jerami. Ingin terlihat di permukaan namun terhalang oleh dedaunan padi serta yang lainnya. Dan tiada air setetes-pun yang menyiraminya apa lagi hujan di kemaraunya musim.
Browsing di Google tiap hari saya lakukan, dengan tujuan untuk mencari materi-materi yang ada hubungannya dengan penulisan puisi. Karena pada dasarnya saya tidak mempunyai latar belakang pendidikan di bidang sastra Indonesia. Apa lagi tata bahasa dan dunia kepuisian, diksi beserta teman-temannya.
Hari Minggu, 3 April 2016 saya bergabung dengan Organisasi yang keren menurut peserta di Talkshow kepenulisan yang bertajuk "1001 Rahasia Kepenulisan di era Digital." Kegiatan ini selain talkshaw juga menjadi event launching FLP (Forum Lingkar Pena) Kediri dan di sana ternyata dihadiri oleh Ketua FLP Wilayah Jawa Timur, Rafif Amir. Pucuk dicinta ulam-pun tiba, apa yang saya dambakan selama ini akhirnya diwujudkan Allah SWT. Saya ingin belajar menulis dan menulis dengan bergabung bersama organisasi tertentu akhirnya tersampaikan. Alhamdulillah .... bahagianya hati ini tiada yang menandinginya lagi. Tralala lala lala ...
Foto bersama Ketua FLP Jawa Timur Rafif Amir
Hari-hari saya berubah seratus derajat, yang pada mulanya si-cerpen itu asing bagi saya. Kini dia harus saya dekati, kenal dan tentu seiring waktu saya akan mencintainya. Begitu juga dengan novel, essay, artikel, dan bikin blog yang semua itu asing bagi saya, kini mereka adalah teman saya meski belum saya mengenalnya lebih jauh. Semua itu terjadi karena di dalam Organisasi FLP ada kelas-kelas yang harus saya masuki. Ada kelas puisi, cerpen, novel, essay, artikel, dan resensi.
Jarak jauh rumah dari dusun saya Sumoyono Cukir Jombang ke kota Kediri kurang lebih 1 jam 1/2 perjalanan. Dan itu tidak membuat kamauan saya surut atau keriput juga tidak menjadikan api semangat saya meredup. Apa lagi usia saya yang tidak muda lagi untuk memulai sesuatu yang baik, 45 tahun lo saat gabung di FLP. Kata teman saya usia mendekati senja atau di atas 30 tahun adalah terlambat untuk ingin dikenal dunia. Ah, tapi pernyataan itu bagi saya tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu kebaikan.
Hati ini semakin dicuri oleh FLP, betapa tidak ternyata organisasi ini adalah organisasi kepenulisan Islami yang sangat beken, fenomenal, namanya terkenal diseparuh dunia. Coba bayangkan pendiri organisasi adalah bunda Asma Nadia, Helvi Tiana Rosa, beliau berdua adalah novelis terkenal. Karya-karyanya sering difilmkan dan menjadi best seller. 22 Pebruari 1997 Forum Lingkar Pena didirikan.
Taufiq Ismail mengatakan "Forum Lingkar Pena sangat Fenomenal. FLP adalah hadiah Tuhan untuk Indonesia." Ini menjadi pertanda bahwa FLP adalah Organisasi kepenulisan Islami yang Fenomenal, Barokah hingga cabangnya hampir ada menyeluruh ke seluruh pojok Nusantara.
Maman S. Mahayana, mengatakan bahwa "Dalam sejarah sastra Indonesia belum ada satupun organisasi atau komunitas (sastra) yang kiprah dan kontribusinya begitu menakjubkan, sebagaimana yang telah dilakukan FLP. Karena FLP telah membuat catatan sejarah sastra Indonesia dengan tinta emas."
Habiburrahman El-Shirazy atau dikenal dengan panggilan Kang Abik, adalah salah satu Patih FLP yang kondang dan membuat hati saya tercuri oleh karya-karya beliau yang best seller dengan ciri khasnya yang Islami. Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, novel ini mampu membuat hati dan mata saya meneteskn air mata yang cukup lama mengkristal karena asing dengan buku yang namanya novel. Ayna, sosok perempuan ini begitu teguh menggenggam nilai-nilai Islam yang ada pada dirinya. Penderitaan yang ia alamai begitu beruntunnya. Hingga hati ini tak kuasa menahan laranya, kepedihannya. Air mata ini lagi-lagi terus mengalir di pelataran pipi saya. Terhanyut sudah mengikuti arus kisah dalam novel ini "Bidadari Bermata Bening."
Jumat, 28/04/2017 Novel Kang Abik "Bidadari Bermata Bening" saya dapatkan ketika peluncurannya di Masjid Ulil Albab Ponpes Tebuireng Jombang. Hati ini begitu berbunga-bunga, bahagianya tiada tara dan lagi-lagi tidak ada yang mampu menandingi. Terbayang di benak saya, kalau bisa bercakap dengan Kang Abik, bisa foto berdua, mendapatkan tanda tangannya. Namun angan saya sirna ketika panitia membatasi waktu sesi tanya jawab dengan Kang Abik. hati yang menggebu ingin bertemu dan beradu akhirnya seketika membisu. Hanya kekecewaan yang berpadu.
Bersama para peserta bedah novel dari beberapa Ponpes dan Kang Abik
Foto: Factual News/Romza
Kekecewaan untuk bercakap memang tidak aku dapati, namun ilmu menulis sebuah novel sudah saya kantongi dari seorang kang Abik. "Jika ingin menulis sebuah novel yang bergizi, harus mempunyai data real, fiksi itu harus memahami alur ceritanya. Alur cerita tidak hanya di dunia nyata tetapi di dalam novel banyak hal-hal real yang terjadi," ujar beliau.
Ide bisa kita dapati dari mana saja, letupannya bisa ada di mana-mana lalu lengkapilah menjadi cerita yang sempurna, lanjut beliau. Juga karakteristik tokoh harus dirancang sedemikian rupa, bahkan bayangan fisiknya juga harus ditulis. Data yang sudah terkumpul, di simak kembali," imbuhnya.
Suatu saat nanti saya percaya bahwa Allah akan mempertemukan saya dengan Kang Abik, bincang bersama serta mendapatkan novelnya secara gratis. Hehe, ini yang saya suka, kalian juga donk ...Dan yang pasti suatu hari nanti saya Insya allah akan mampu menulis seperti beliau. Aamiin ...
Masih tetap di sini di keluargaku FLP dan program-program rutinnya. Untuk menjadikan saya lebih sehat, saya ingin mengkonsumsi makanan bergizi menulis seperti teman-teman lainnya yang begitu hebatnya menelurkan karya-karya yang keren. Upgrading salah satunya, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anggotannya di setiap cabang di Jawa Timur dalam bidang menulis. Juga menyambung tali silaturahmi antar anggota, dan yang paling penting meningkatkan skill peserta, ujar ketua FLP Jawa Timur Rafif Amir dalam sambutannya pada acara pembukaan Upgrading di BLK Pasuruan tanggal 25-26 Pebruari 2017.
Ketua FLP Jawa Timur Rafif Amir dalam sambutannya di Lumajang
Writing Camp adalah juga makanan bergizi lainnya yang saya konsumsi. Sabtu, (13/08/16) di Lumajang yang bertempat di wisata alam Gucialit, desa Kertowono Kecamatan Gucialit digelar Silaturahmi FLP Wilayah dan pelatihan menulis. "Kegiatan diadakan tidak lain adalah untuk memperdalam ilmu menulis bagi semua anggotanya, pun juga untuk mengeksplorasi kekayaan alam Jawa Timur menjadi inspirasi menulis," ujar Rafif Amir.
Ada banyak lagi program bergizi lainnya untuk menjelma meenjadi penulis yang mempesona. Reading Chalenge kelas membaca, Writing Chalenge kelas menulis, kelas novel, cerpen, puisi.
Rasa cinta saya kepada FLP semakin menggunung serta memuncak, belajar menulis terus saya lakukan. Mengirim ke media-pun saya beranikan diri. Essay, resensi, puisi, artikel tak ketinggalan. Namun apa daya tangan ini masih tak sampai, karya saya belum bisa dimuat. Saya sadar banyak kekurangan yang saya dapati, dan Allah berfirman dalam sebuah surat di dalam Al-Quran "Allah tidak akan merubah suatu kaum, jika ia tidak berusaha merubahnya sendiri."
Di penghujung Desember 2017, puisi ke-tiga saya dimuat di Majalah Suara Pendidikan Kabupaten Jombang. Alhamdulillah setelah menunggunya, akhirnya Allah memberikan jawaban. Bahagia hati ini tiada duanya, ya lagi-lagi tiada ada yang bisa menandingi. Tara ...taraa ...
Puisi Tangisan Rohingya
Namun di balik itu ada asaku yang nyaris luruh, di keadaan yang membikin hati galau. Betapa tidak, saya mengirim 3 puisi ke Redaksi Radar Jombang, sudah hampir 1 tahun namun tidak ada dimuat di setiap Minggunya. Musnah sudah asaku, api semangatku nyaris padam, putus asa melingkupi hati ini. Ya sudah memang bukan rizki saya, dan saya percaya kalau kegigihan menulis belum seberapa dibanding teman-teman yang sudah dimuat di Radar Jombang.
Tanggal 20 Desember 2016 saya mengirim 3 puisi ke Media informasi yang mendunia ke Koran Jawa Pos Radar Jombang. Dan 1 Oktober 2017 Allah menyuguhkan hadiah terindah juga surprice untuk hambanya yang manis ini. Alhamdulillahirobbil'alamiin ... Allah SWT. menerbitkan cahaya yang nyaris luruh diujungnya asa. Penantian hampir 1 tahun untuk mendapatkan kabar darinya, untuk melihat pesona puisi saya yang menghiasi halaman Radar Jombang. Memang semuanya akan indah pada waktunya, jika kita sabar menanti dan selalu berdoa. Dalam Islam juga kita diperintahkan untuk berihtiar, berdoa dan bertawakkal.
Semoga FLP mampu membimbingku sampai aku bisa menulis sebuah novel best seller. Aamiin ...
Ke-3 puisi saya
Tulisan ini saya buat untuk mengikuti lomba cerita inspiratif blogger.
Jombang, 150218
www.flp.or.id
#miladflp21
#kisaahinspiratifFLP
Entahlah ketika itu, saya berada di ruang kelas tiga tempat saya mengajar, anak-anak sedang megerjakan ulangan harian. Namun tiba-tiba hati berasa ada yang memanggil-manggil untuk menuliskan sederetan kata-kata indah untuk ibunda tercinta. Maka jadilah sebuah puisi dengan judul "Untukmu Ibu", entahlah kata-kata indah itu mengalir begitu saja seperti air yang ada di kelokan sungai dan akhirnya sampai pada muaranya lautan lepas.
Dan dua hari sesudahnya iseng-iseng puisi ini saya kirim ke sebuah majalah daerah Kabupaten yaitu"Majalah Suara Pendidikan." Saya tidak mempunyai ambisi pada saat itu agar puisi saya dimuat, dalam hanti hanya berkata "dimuat alhamdulillah, tidak dimuat-pun tidak apa-apa."
Satu bulan terlewati di depan mata, dan saya sudah melupakannya. Eh tiba-tiba ada inbok facebook masuk, treng ...
Seorang teman guru perempuan memberi kabar bahwa puisiku dimuat di Majalah Suara Pendidikan. Begitu bahagianya hati ini, tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata, hanya derai air mata yang tiba-tiba menari-nari di karpet pipi. Sejak hari itu api semangatku kiat berkobar, menyala seperti api abadi sepanjang masa yangberda di Pulau Madura.
Puisi ke-duaku dimuat lagi di bulan Maret dengan judul "Guruku." Bahagia hati ini tiada yang menadingi, walupun tidak ada sepeser-pun uang aku kantongi. Bisa menjadi bermanfaat tulisan aku yang tidak seberapa itu, nilai lebih mahal dari sejuta uang jika kudapati.
Panggilan hati untuk belajar menulis kian hari tumbuh dengan subur, serupa sebutir benih yang berada di lautan jerami. Ingin terlihat di permukaan namun terhalang oleh dedaunan padi serta yang lainnya. Dan tiada air setetes-pun yang menyiraminya apa lagi hujan di kemaraunya musim.
Browsing di Google tiap hari saya lakukan, dengan tujuan untuk mencari materi-materi yang ada hubungannya dengan penulisan puisi. Karena pada dasarnya saya tidak mempunyai latar belakang pendidikan di bidang sastra Indonesia. Apa lagi tata bahasa dan dunia kepuisian, diksi beserta teman-temannya.
Hari Minggu, 3 April 2016 saya bergabung dengan Organisasi yang keren menurut peserta di Talkshow kepenulisan yang bertajuk "1001 Rahasia Kepenulisan di era Digital." Kegiatan ini selain talkshaw juga menjadi event launching FLP (Forum Lingkar Pena) Kediri dan di sana ternyata dihadiri oleh Ketua FLP Wilayah Jawa Timur, Rafif Amir. Pucuk dicinta ulam-pun tiba, apa yang saya dambakan selama ini akhirnya diwujudkan Allah SWT. Saya ingin belajar menulis dan menulis dengan bergabung bersama organisasi tertentu akhirnya tersampaikan. Alhamdulillah .... bahagianya hati ini tiada yang menandinginya lagi. Tralala lala lala ...
Foto bersama Ketua FLP Jawa Timur Rafif Amir
Hari-hari saya berubah seratus derajat, yang pada mulanya si-cerpen itu asing bagi saya. Kini dia harus saya dekati, kenal dan tentu seiring waktu saya akan mencintainya. Begitu juga dengan novel, essay, artikel, dan bikin blog yang semua itu asing bagi saya, kini mereka adalah teman saya meski belum saya mengenalnya lebih jauh. Semua itu terjadi karena di dalam Organisasi FLP ada kelas-kelas yang harus saya masuki. Ada kelas puisi, cerpen, novel, essay, artikel, dan resensi.
Jarak jauh rumah dari dusun saya Sumoyono Cukir Jombang ke kota Kediri kurang lebih 1 jam 1/2 perjalanan. Dan itu tidak membuat kamauan saya surut atau keriput juga tidak menjadikan api semangat saya meredup. Apa lagi usia saya yang tidak muda lagi untuk memulai sesuatu yang baik, 45 tahun lo saat gabung di FLP. Kata teman saya usia mendekati senja atau di atas 30 tahun adalah terlambat untuk ingin dikenal dunia. Ah, tapi pernyataan itu bagi saya tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu kebaikan.
Hati ini semakin dicuri oleh FLP, betapa tidak ternyata organisasi ini adalah organisasi kepenulisan Islami yang sangat beken, fenomenal, namanya terkenal diseparuh dunia. Coba bayangkan pendiri organisasi adalah bunda Asma Nadia, Helvi Tiana Rosa, beliau berdua adalah novelis terkenal. Karya-karyanya sering difilmkan dan menjadi best seller. 22 Pebruari 1997 Forum Lingkar Pena didirikan.
Taufiq Ismail mengatakan "Forum Lingkar Pena sangat Fenomenal. FLP adalah hadiah Tuhan untuk Indonesia." Ini menjadi pertanda bahwa FLP adalah Organisasi kepenulisan Islami yang Fenomenal, Barokah hingga cabangnya hampir ada menyeluruh ke seluruh pojok Nusantara.
Maman S. Mahayana, mengatakan bahwa "Dalam sejarah sastra Indonesia belum ada satupun organisasi atau komunitas (sastra) yang kiprah dan kontribusinya begitu menakjubkan, sebagaimana yang telah dilakukan FLP. Karena FLP telah membuat catatan sejarah sastra Indonesia dengan tinta emas."
Habiburrahman El-Shirazy atau dikenal dengan panggilan Kang Abik, adalah salah satu Patih FLP yang kondang dan membuat hati saya tercuri oleh karya-karya beliau yang best seller dengan ciri khasnya yang Islami. Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, novel ini mampu membuat hati dan mata saya meneteskn air mata yang cukup lama mengkristal karena asing dengan buku yang namanya novel. Ayna, sosok perempuan ini begitu teguh menggenggam nilai-nilai Islam yang ada pada dirinya. Penderitaan yang ia alamai begitu beruntunnya. Hingga hati ini tak kuasa menahan laranya, kepedihannya. Air mata ini lagi-lagi terus mengalir di pelataran pipi saya. Terhanyut sudah mengikuti arus kisah dalam novel ini "Bidadari Bermata Bening."
Jumat, 28/04/2017 Novel Kang Abik "Bidadari Bermata Bening" saya dapatkan ketika peluncurannya di Masjid Ulil Albab Ponpes Tebuireng Jombang. Hati ini begitu berbunga-bunga, bahagianya tiada tara dan lagi-lagi tidak ada yang mampu menandingi. Terbayang di benak saya, kalau bisa bercakap dengan Kang Abik, bisa foto berdua, mendapatkan tanda tangannya. Namun angan saya sirna ketika panitia membatasi waktu sesi tanya jawab dengan Kang Abik. hati yang menggebu ingin bertemu dan beradu akhirnya seketika membisu. Hanya kekecewaan yang berpadu.
Bersama para peserta bedah novel dari beberapa Ponpes dan Kang Abik
Foto: Factual News/Romza
Kekecewaan untuk bercakap memang tidak aku dapati, namun ilmu menulis sebuah novel sudah saya kantongi dari seorang kang Abik. "Jika ingin menulis sebuah novel yang bergizi, harus mempunyai data real, fiksi itu harus memahami alur ceritanya. Alur cerita tidak hanya di dunia nyata tetapi di dalam novel banyak hal-hal real yang terjadi," ujar beliau.
Ide bisa kita dapati dari mana saja, letupannya bisa ada di mana-mana lalu lengkapilah menjadi cerita yang sempurna, lanjut beliau. Juga karakteristik tokoh harus dirancang sedemikian rupa, bahkan bayangan fisiknya juga harus ditulis. Data yang sudah terkumpul, di simak kembali," imbuhnya.
Suatu saat nanti saya percaya bahwa Allah akan mempertemukan saya dengan Kang Abik, bincang bersama serta mendapatkan novelnya secara gratis. Hehe, ini yang saya suka, kalian juga donk ...Dan yang pasti suatu hari nanti saya Insya allah akan mampu menulis seperti beliau. Aamiin ...
Masih tetap di sini di keluargaku FLP dan program-program rutinnya. Untuk menjadikan saya lebih sehat, saya ingin mengkonsumsi makanan bergizi menulis seperti teman-teman lainnya yang begitu hebatnya menelurkan karya-karya yang keren. Upgrading salah satunya, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anggotannya di setiap cabang di Jawa Timur dalam bidang menulis. Juga menyambung tali silaturahmi antar anggota, dan yang paling penting meningkatkan skill peserta, ujar ketua FLP Jawa Timur Rafif Amir dalam sambutannya pada acara pembukaan Upgrading di BLK Pasuruan tanggal 25-26 Pebruari 2017.
Ketua FLP Jawa Timur Rafif Amir dalam sambutannya di Lumajang
Writing Camp adalah juga makanan bergizi lainnya yang saya konsumsi. Sabtu, (13/08/16) di Lumajang yang bertempat di wisata alam Gucialit, desa Kertowono Kecamatan Gucialit digelar Silaturahmi FLP Wilayah dan pelatihan menulis. "Kegiatan diadakan tidak lain adalah untuk memperdalam ilmu menulis bagi semua anggotanya, pun juga untuk mengeksplorasi kekayaan alam Jawa Timur menjadi inspirasi menulis," ujar Rafif Amir.
Ada banyak lagi program bergizi lainnya untuk menjelma meenjadi penulis yang mempesona. Reading Chalenge kelas membaca, Writing Chalenge kelas menulis, kelas novel, cerpen, puisi.
Rasa cinta saya kepada FLP semakin menggunung serta memuncak, belajar menulis terus saya lakukan. Mengirim ke media-pun saya beranikan diri. Essay, resensi, puisi, artikel tak ketinggalan. Namun apa daya tangan ini masih tak sampai, karya saya belum bisa dimuat. Saya sadar banyak kekurangan yang saya dapati, dan Allah berfirman dalam sebuah surat di dalam Al-Quran "Allah tidak akan merubah suatu kaum, jika ia tidak berusaha merubahnya sendiri."
Di penghujung Desember 2017, puisi ke-tiga saya dimuat di Majalah Suara Pendidikan Kabupaten Jombang. Alhamdulillah setelah menunggunya, akhirnya Allah memberikan jawaban. Bahagia hati ini tiada duanya, ya lagi-lagi tiada ada yang bisa menandingi. Tara ...taraa ...
Puisi Tangisan Rohingya
Namun di balik itu ada asaku yang nyaris luruh, di keadaan yang membikin hati galau. Betapa tidak, saya mengirim 3 puisi ke Redaksi Radar Jombang, sudah hampir 1 tahun namun tidak ada dimuat di setiap Minggunya. Musnah sudah asaku, api semangatku nyaris padam, putus asa melingkupi hati ini. Ya sudah memang bukan rizki saya, dan saya percaya kalau kegigihan menulis belum seberapa dibanding teman-teman yang sudah dimuat di Radar Jombang.
Tanggal 20 Desember 2016 saya mengirim 3 puisi ke Media informasi yang mendunia ke Koran Jawa Pos Radar Jombang. Dan 1 Oktober 2017 Allah menyuguhkan hadiah terindah juga surprice untuk hambanya yang manis ini. Alhamdulillahirobbil'alamiin ... Allah SWT. menerbitkan cahaya yang nyaris luruh diujungnya asa. Penantian hampir 1 tahun untuk mendapatkan kabar darinya, untuk melihat pesona puisi saya yang menghiasi halaman Radar Jombang. Memang semuanya akan indah pada waktunya, jika kita sabar menanti dan selalu berdoa. Dalam Islam juga kita diperintahkan untuk berihtiar, berdoa dan bertawakkal.
Semoga FLP mampu membimbingku sampai aku bisa menulis sebuah novel best seller. Aamiin ...
Ke-3 puisi saya
Tulisan ini saya buat untuk mengikuti lomba cerita inspiratif blogger.
Jombang, 150218
www.flp.or.id
#miladflp21
#kisaahinspiratifFLP






Sukses selalu mb Nur. Semoga kita dapat berjumpa kembali ya...
BalasHapusAamiin ...ya Robbal'Aalamiin...terimakasih mbak fitri. Begitu juga mbak fitri semoga sukses selalu mendampingi.Aamiin
HapusSelamat Mbak Nur, semangat dan sukses selalu yaa
BalasHapusSemangatnya itu lho, patut ditiru. Sjk awal jumpa hingga saat ini masih saja membara. Ganbatte, umi Nur...😊
BalasHapus